Nenek Fatimah adalah seorang nenek tua yang sangat malang. Sudah hampir 25 tahun ia mengharapkan kehadiran seorang anak. Tampaknya sang khalik belum bias mengabulkan permintaanya. Suatu hari ia mendengar berita ada seorang raksasa yang dapat mengabulkan segala keinginan penduduk desa. Tanpa membuang waktu lagi, Aminah mendatangi raksasa itu.
“ Raksasa yang baik hati, aku sudah hampir tutup usia. Aku mohon padamu, berikanlah aku seorang anak untuk mengurusku saat aku tiada nanti” mohon si nenek dengan air mata mengalir
“ Baiklah, aku akan mengabulkan permintaaanmu. Tapi, dengan satu syarat , setelah berunur 15 tahun nanti kau harus menyerahkannya kepadaku” kata si Raksasa sambil menyerahkan sebuah biji mentimun
“ apa yang haru aku lakukan sekarang? “
“ tanamlah biji mentimun itu di halaman rumahmu, janganlah memetiknya sebelum 40 hari”
“ baik, aku kan laksanakan sesuai perintahmu”
Usai menerima biji mentimun tadi, si nenek langsung pulang *ga mampir2*. Sesampai di rumahnya, si nenek segera melakukan apa yang diperintahkan raksasa tadi. Kebetulan si nenek juga menanam pohon mentimun, agar tidak tertukar dengan mentimun tanamannya sendiri, si nenek meberikan tanda. Mentimun asli tanamannya dililitkan pita kuning.
Setiap hari, si nenek selalu berdoa, baginya percaya pada raksasa boleh-boleh saja. Tapi, berdoa adalah suatu hal yang harus dilakukan agar senantiasa dekat dengan sang Pencipta. Waktu terus berjalan, seminggu sudah pohon mentimun yang bibitnya dari si raksasa sudah tumbuh kira-kira 30 cm. Buahnya banyak dan segar .tapi ga boleh dicabut.
Suatu malam terjadi hujan besar, pita kuning yang menjadi penanda pohon mentimun lepas. Si nenek yang sudah mulai pikun, bingung mana pohon yang asli dan mana pohon yang jadi-jadian *adakalipohonjadi-jadian*. Si nenek akhirnya fifty-fifty *kayakuisaje*, dia berkata dalam hati “kalau tuh puun, di deketi kucing. Berarti itu puun yang palsu” *kucing kan ga doyan mentimun*. Si nenek tadi mengambil kucing dari jalanan. Eh, si kucing malah lari ke arah pohon mentimun yang asli *intuisi u kurang tepat, meng*. Si nenek akhirnya mencabut mentimun dari pohon jadi-jadian. Mentimun yang begitu segar dan garing *kalo pake makan indomie, mantaap :p*. si nenek belum sadar akan perbuataannya.
Hari ini tepat 40 hari sesuai janji raksasa, bakalan ada anak yang selama ini diidam-idamkan si nenek Fatimah. Si nenek mencabut mentimun yang paling besar dari pohon mentimun miliknya, dia merasa sangat kecewa. Tidak satupun ditemukan tanda-tanda anak bayi. Sudah 10 buah mentimun dibelahnya, semuanya sama saja. Ditengah kebuntuan yang begitu tidak terarah *yab iyalah, namanya juga buntu*. Si nenek berdoa “ya, Tuhan jika engkau berkehendak padaku untuk memiliki anak. Jadikan kehendakmu itu kepadaku. Jika tidak, aku akan pasrah menunggu usiaku untuk duduk disampingmu”. Si nenek berdoa dengan khusyuknya. Tiba-tiba saja, si nenek ingin makan labu, dipetiknya sebuah labu yang sudah besar dari tanaman di depan rumahnya.
Suara bayi, terdengar saat nenek Fatimah membelah labu kuning. Raut wajah sedih perempuan renta ini berubah begitu riang dan bahagia . sejak saat itu si nenek percaya bahwa untuk mendapatkan sesuatu diperlukan doa yang sungguh-sungguh dan percaya kepada yang maha kuasa. Si nenek dan labu kuning hidup bahagia.
Pesan: jangan suka mengeluh dan bosan untuk berdoa. Jika itu sudah menjadi kehendaknya, semuanya pasti akan terjadi. Hanya waktu saja yang harus kita lewati . semnagatttttt !!!!
Sabtu, 19 Februari 2011
Labu kuning
Diposting oleh welcome to doggy's blog di 00.57
Label: Reconstruct Fairy Tale
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar