Disebuah desa hiduplah seorang janda tua bersama anaknya yang bernama Malin. Malin adalah seorang anak laki-laki yang cerdas, tapi sayang nakal. Hobinya mengejar ayam kemudian memukulnya dengan sapu *jangan ditiru ya* #trauma*) . Suatu hari saat mengejar ayam, eh, ga sengaja dia nubruk batu. “auwww !!!”. Malin jatuh tersungkur ke tanah, kakinya berdarah dan lengannya luka *hahahahaha kena batunya kamu iseng sihh ^suara hati ayam^ . Luka di lengan kanannya itu berbekas *LTP (Luka tanda pengenal) sering ngisengin kongkorongok*. Pekerjaan sehari-hari ibu Malin adalah seorang pencari ikan di pinggir pantai. Penghasilannya sangat pas-pasan. Setiap hari ini hanya bisa membeli sedikit beras untuk makan. Tidak jarang ia tidak makan sama sekali, dan merelakan makanan yang di belinya untuk anak tercintanya . Melihat pengorbanan ibunya yang begitu besar, malin sangat menyesal telah nakal dan menyusahkan ibunya.
Seiring dengan berjalannya waktu,,Malin menjadi pemuda yang gagah. Suatu hari, Malin meminta ijin kepada sang Ibu untuk pergi merantau bersama teman-temannya. Malin tergiur akan kesuksesan teman-temannya. Malin sama sekali tidak tahu apa pekerjaan teman-temannya. Awalnya Aminah. Ibu Malin tidak setuju dengan keputusan anaknya itu. Ia takut, Malin akan bernasib sama dengan suaminya yang tenggelam di sebuah pulau saat pergi berlayar untuk berdagang. Malin terus mendesak ibunya dan berjanji akan kembali pada ibunya dengan selamat. Sebagai seorang ibu, Aminah tidak tega mendengar rintihan anaknya. Aminah mengijinkan Malin untuk merantau.
“nak, jangan lupa setelah sukses nanti ingat dengan ibu. Kamu jangan melakukan hal yang salah, hanya karena tergiur sesuatu”, pesan Aminah.
“ya, bu. Aku akan kembali setelah sukses nanti dan menjemput ibu”, janji Malin. Aminah melepas kepergian Malin dengan tangis di wajahnya yang mulai terlihat keriput.
Hari demi hari Aminah menanti kedatangan Anaknya untuk menjemputnya. Tidak satupun berita diterimannya. Wajahnya bertambah keriput dimakan usia. Suatu hari heboh berita seorang pemuda merampok kapal seorang saudagar kaya raya. Si Perompak sedang melarikan diri ke kampung Malin. Si perompak itu ternyata adalah Malin yang sudah 10 tahun pergi meninggalkan kampungnya. Aminah merasa sangat senang anaknya sudah kembali walaupun di dalam hatinya ia bersedih karena malin telah menjadi seorang perompak akibat di jebak teman-temannya. Malin dan ibunya hidup berkecukupan dari hasil rampokan Malin selama 10 tahun.
Sepandai-pandainya tupaib melompat pasti akan jatuh juga. Sehebat-hebatnya Aminah melindungi anaknya, akhirnya ketahuan juga. Perompak kapal saudagar saudagar kaya selama ini adalah Malin. Saudagar yang kapalnya dirampok oleh Malin mendatangin rumah malin.
“ malin!!! Kembalikan semua hartaku yang sudah kau curi! Kalo kau tidak menyangupinya kau harus mati dengan kepala digantung,” bentak si Saudagar Kaya
.”maaf, tuan aku mencuri karena jebakan beberapa temanku. Aku mohon maafkanlah aku “ mohon Malin sambil berlutut.
“baik, aku maafkan kamu asalkan kamu mau menikah dengan putriku ini. Bagaimana, kamu sanggup ???”
“sanggup, aku sanggup tuan,” Malin ketakutan
“Siapa, nenek tua ini. Apa dia ibumu ?? “Tanya si saudagar sambil menunjuk ibu malin.
“Bukan, tuan dia hanyalah seorang perempuan tua biasa. Aku menumpang untuk melarikan diri” jawab malin
Mendengar ucapan Malin, Aminah merasa sangat sedih. Hatinya begitu perih bagaikan tersayat pisau.
“Nak, aku ini ibumu!” mohon Aminah
“ diam kamu, perempuan renta ! ibuku sudah lama meninggal” bentak Malin sambil medorong ibunya.
“baik, kalau kamu tidak mau mengakui aku ini ibumu. Biarlah tuhan yang akan mebalas perbuatanmu. Ya, tuhan berikanlah keadilan pada hambamu ini “ mohon Aminah.
Tiba-tiba langit berubah menjadi gelap dan petir bunyi menggelegar menyambar tubuh Malin. Seketika itu Malin berubah menjadi batu dan desa itu tenggelam . Malin terknal dengan nama maling kondang karena perbuatan merampoknya yang terbilang sangat lihai. Maling kondang kini telah membatu karena perbuataannya yang durhaka kepada ibunya.
Pesan: jangan mudah tergiur dengan bujukan teman yang mengimingi sesuatu yang “WAHH”
Seburuk apapun kita, orang tua pasti akan menerima kita. Seburuk apapun orang tua kita juga harus menerimanya
Ket : #trauma *) _ penulis pernah dipatok ayam waktu umur 5 taun L

0 komentar:
Posting Komentar